The only way to win baccarat_European online betting_online roulette

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Casinogame

BBaccarat tableaccarat tablenggak boleh nangiBaccarat tables/ Illustration bBaccarat tabley Hipwee

Harap beli akses artikel ini atau berlangganan   untuk melanjutkan

Komunikasi lancar/ Illustration by Hipwee

Ternyata memang ada sebuah sistem yang membuat para lelaki lebih susah mengekspresikan emosi mereka lo. Alih-alih disebabkan faktor biologisBaccarat table, ternyata penyebab laki-laki sulit mengekspresikan emosi justru disebabkan hal yang mungkin nggak terpikirkan oleh kebanyakan orang. Kalau selama ini kamu merasa sulit memahami mereka, maka kamu mungkin perlu sebuah panduan yang akan berguna atau bahkan mungkin bisa membantu pasanganmu untuk bisa lebih mengekspresikan diri.

“Kamu kan laki-laki, harus jadi penerus keluarga. Jadi harus kuat dong.”

Kalau masih bingung bagaimana berkomunikasi dengan laki-laki, ini dia tipsnya!

Tahan dulu, SoHip. Sebelum berusaha untuk memahami pasangan dengan berjuta misterinya maka akan lebih baik kalau kamu mengenal emosi yang kamu miliki terlebih dulu. Skill menamai emosi adalah salah satu hal penting yang harus dikuasai sebelum masuk ke suatu relasi. Uniknya, kita nggak cuma mampu merasakan satu emosi saja di suatu waktu lo tapi juga merasakan emosi campuran. Makin intens hubungan kita dengan seseorang, maka emosi yang dirasakan semakin bermacam-macam.

Namaste/ Illustration by Hipwee

Laki-laki cenderung memiliki perasaan ingin dihargai baru rasa cintanya akan muncul. Maka, hal ini bisa digunakan sebagai pertimbangan untuk mencari laki-laki yang bahkan ketika dia nggak melakukan apapun, kamu sudah bisa menghormatinya. Misalnya menuntaskan tanggung jawab dengan baik, atau melakukan apa yang dikatakannya alias ‘walk the talk’, dll.

Jadi, penting banget untuk memberikan solusi spesifik ya. Misalnya alih-alih hanya bilang “Kamu kok cuek banget sih?” kamu bisa bilang “Akhir pekan ini kita ngobrol 30 menit, yuk?” Selain itu, semisal sudah ngobrol dan pasangan kita bilang nggak bisa maka jangan langsung merasa dia nggak mengerti kebutuhan kita tapi mungkin memang ada alasannya. Nah, makanya penting juga untuk kita melatih menjaga ekspektasi.

Kok cuek?/ Illustration by Hipwee

Banyak yang bilang kalau memahami perempuan adalah ujian yang lebih berat daripada menyelesaikan soal matematika. Makanya di internet banyak bertebaran memes soal cewek dan kata “Terserah” andalannya yang sulit diartikan. Padahal, kalau diperhatikan kebanyakan perempuan cenderung lebih ekspresif dalam menunjukkan emosinya daripada para laki-laki.

Tahu nggak sih, SoHip, kalau ternyata kita akan menjadi magnet untuk orang-orang yang justru memiliki sikap yang berkebalikan dari kita? Misalnya kalau kita termasuk orang yang insecure justru bisa jadi kita akan attract orang yang sangat cuek. Sayangnya, ketika menghadapi gap yang jauh, biasanya para perempuan belum mampu menawarkan solusi untuk suatu permasalahan, padahal otak laki-laki saat sudah dewasa terbiasa dengan problem solving.

Apology Language penting untuk dipahami karena bisa jadi walau kamu merasa sudah meminta maaf setelah membuat salah, pasangan malah mengira kamu belum melakukannya. Ada 5 bahasa yang perlu kamu dan pasangan sama-sama ketahui.

Nggak apa-apa, perasaan tersebut ternyata memang wajar terjadi. Nggak apa-apa punya beragam perasaan ke pasangan dan nggak apa-apa pula memiliki beragam perasaan ke diri sendiri.

Intinya, ketika masuk ke hubungan percintaan, it’s all about other people. Artinya, kita sudah harus ‘selesai’ dengan diri sendiri, sebelum kita membagi rasa cinta yang kita miliki dengan orang lain. Jadi rumusnya adalah give, give, give, and receive. Apa kamu sudah siap untuk itu?

Jika tinggal di lingkungan yang masih sangat kaku, maka ada gender checklist yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan.  Dari ekspektasi orang tua tersebut akhirnya struktur otak kita terpengaruh. Bahkan apa yang kita dengar dari usia 0 sampai 7 tahun akan masuk ke alam bawah sadar kita.

PS. Konten ini dibuat secara co-create antara pihak content creator dengan tim editorial Hipwee Premium

Kamu mungkin akan familiar dengan perasaan-perasaan “Aku BT tapi kangen.” atau “Aku kesel banget tapi juga sayang banget.”

Nah, pengalaman kita di masa perkembangan, jika diumpamakan, seperti kotak pandora yang baru akan terbuka saat kita bersama orang terdekat. Makanya, saat sudah dewasa dan memiliki pasangan, pasangan kita lah yang seringkali menjadi agen untuk men-trigger isu-isu yang kita miliki dengan sangat baik. Dengan kata lain, kalimat-kalimat seperti “Kamu kok cuek banget sih?” atau “Kamu tuh nggak peka!” atau bahkan “Kamu tuh bikin aku insecure!” sebenarnya merupakan refleksi dari isu yang ada dalam diri kita, bukan pasangan.

Kabar baiknya, kamu bisa mengendalikan emosi dalam diri sendiri lo. Meskipun memiliki pengalaman yang nggak terlalu baik di masa kecil terkait emosi, kamu bisa belajar melatihnya setiap hari. Kamu bisa mencoba mengawali latihan berikut ini dengan 5 sampai 10 menit sehari lalu jadi 30 sampai 40 menit sehari. Jika dilakukan secara konsisten selama 3 sampai 6 bulan, latihan ini akan membuatmu menjadi orang yang berbeda. Bahkan dalam satu tahun, kamu akan memiliki kualitas relasi yang lebih bagus dengan pasangan.

“Kamu perempuan. Harus halus ya perilakunya. Pasti lebih sensitif ya?”

Laki-laki dan perempuan sebenarnya sama secara fisiologis saat masih di dalam kandungan. Baru ketika janin memiliki hormon testosteron yang lebih banyak maka ia akan berjenis kelamin laki-laki, sedangkan jika hormon testosteron lebih sedikit maka ia akan menjadi perempuan. Perbedaan gender masih belum terasa saat mereka masih bayi, tapi lingkungan yang memberikan ekspektasi-ekspektasi tertentu yang membuat keduanya berbeda.

Kami akan menangis saat sedih, marah saat merasa BT, dan tertawa saat senang. Sebaliknya, laki-laki justru lebih sering memendam emosi karena takut diberi label tertentu oleh masyarakat. Makanya, nggak jarang kebiasaan memendam emosi ini mungkin membuat kamu para perempuan sulit memahami mereka, yang akhirnya bisa mengakibatkan konflik dalam sebuah hubungan.